Jangan Pilih dengan Hati Nurani! Pilihlah dengan Otak!
Dalam spanduk-spanduk yang dikeluarkan KPUD terdapat anjuran untuk memilih dengan hati nurani.
Mungkin, KPUD ini salah satu penggemar ceramahnya Abdullah Gymnastiar yang selalu mengusung hati dalam ceramah-ceramahnya.
Tetapi apa daya, dalam beberapa kali pemilu, pilihlah dengan hati nurani justru memmperbesar jumlah golput dan menghasilkan kekecewaan bagi rakyat.
Rakyat tidak mengerti benar siapa yang dipilih. Melihat wajahnya, kopiahnya, kumisnya, janggutnya, kerudungnya, dandannya yang manis-manis kayak anak ABG, hatinya tergerak ” Ini dia yang pantas”. Dan…yah kecewa lagi.
Pilihan dengan hati nurani ternyata adalah salah besar. Gunakan Otak. Sekali lagi Otak..tak…takkk.
Berfikir secara rasional itulah yang kurang di masyarakat. Mereka tidak mengolah informasi secara benar, dan mempertanyakan kebenaran informasi yang diterima.
Sekarang apa ada publikasi yang netral mengenai cabup dan cawabup di Bondowoso. Rekam jejak mereka. Prestasi mereka. Komitmen moral mereka. Sebagian adalah desas-desus bahwa si anu terlibat kasus korupsi dalam jumlah besar di pusat, si anuu arogan, si anui suka ngompasin proyek pemerintah, si anuoo tidak tahu apa-apa, si anuee nepotis sejati, dll…
Partai politikpun kurang memberitakan secara utuh calon-calonnya. Tidak ada website milik partai. Ada blog tetapi tidak di update. Ada blog amat lambat di akses ( woiii…administrator, please dong kalo buat website jangan banyak gambarnya…), KPUD tidak punya media publikasi, koran tidak memberitakan secara utuh dan sepotong-potong. Contohnya, PDIP membentuk koalisi merah putih ( mana dong partai-partainya. Tidak diberitakan !), PPP bersama koalisi non parlemen (siapa aja tuh partainya…).
Oh my God, apakah tidak ada orang yg cukup pintar di institusi tersebut untuk membuat website!
Inilah yang membuat saya selaku warga yang terdaftar sebagai pemilih MENGALAMI KEBINGUNGAN BESAR. Tidak ada alternatif calon yang saya pilih karena :
1. Saya tidak mengenal semua calon
2. Saya tidak mengetahui rekam jejak mereka, kredibilitas mereka
3. Saya tidak mau memilih berbagai macam anu tersebut karena saya seperti memilih “kucing dalam karung”
4. kalaupun saya datang ke TPS karena kasihan sama panitia maka akan saya coblos Kumisnya, songota, kopiahnya, matanya, hidungnya, mulutnya, kupingnya, rambutnya, janggutnya….
5.Saya mencoba memilih dengan otak…tak..tak…
(Sori bosss, terlalu menggebu-gebu…nih. Coblos nomor Nol !




SIAPA PEMENANG-NYA ?
Salah satu alasan mengapa kita memiliki frase `kalah sebelum bertanding’ adalah karena pada kenyataannya begitu banyak orang yang enggan untuk ikut dalam pertandingan menyusuri hidup. Hanya karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan pernah menjadi pemenang.
Jika hidup kita adalah soal kalah dan menang, mungkin cara berpikir itu bisa diterapkan.
Namun, pada kenyataannya hidup kita tidak selamanya tentang kalah dan menang.
Memang…,ada kalanya kita harus terlibat dalam permainan seperti itu.
Jika kita tidak mengalahkan orang lain, maka orang lain akan mengalahkan kita; dan kita menjadi pecundang.
Namun, sebagian besar kegiatan dalam hidup kita bukan soal itu.
Melainkan soal; bagaimana kita menjalani hidup itu sendiri.
Oleh karena itu, dalam banyak situasi; menjalani hidup itu lebih penting daripada hasil akhirnya.
Anda tentu masih ingat sebuah kisah klasik tentang seorang lelaki lugu yang tengah duduk di sebuah warung pinggir jalan.
Ketika mendekatkan cangkir kopi ke bibirnya, dia terperangah,
karena tiba-biba saja ada segerombolan orang yang berlarian.
Ia lalu bertanya kepada pelayan;”Kenapa sih orang-orang itu pada berlarian begitu?”
Si pemilik warung menjawab:”Ini perlombaan lari marathon, Pak.” Ia menjawab dengan tersenyum dengan ramah, kemudian melanjutkan:
“Pemenangnya akan mendapatkan sebuah piala.” Katanya.
Lalu lelaki itu berkata;”Kalau hanya pemenangnya yang mendapatkan piala, kenapa orang-orang yang lainnya juga pada ikut berlari…?”
Kemungkinan besar, di dunia nyata tidak ada manusia yang cukup lugu untuk melakukan dialog seperti itu.
Setidak-tidaknya dalam konteks `lomba lari marathon’.
Kita semua tahu bahwa pemenang lomba lari marathon hanya satu orang.
Atau paling banyak 3 orang.
Jika panitia berbaik hati menyediakan hadiah sampai juara harapan ketiga
Seperti ketika kita sekolah di SD dulu, maka jumlah pemenangnya paling banyak ada 6 orang.
Tetapi, kita tidak cukup bodoh untuk mempertanyakan;
“Mengapa ratusan orang lainnya ikut berlari juga?”
Tetapi, mari cermati kehidupan sehari-hari kita.
Secara tidak langsung kita sering mengajukan pertanyaan naif seperti itu.
Kita begitu seringnya bertanya; kenapa orang kecil mesti kerja habis-habisan ?
Toh Paling hasilnya cuma segitu-gitu juga.
Ketika masih kuliah di Bogor dulu, saya pernah iseng ngikuti lomba lari jauh semacam Marathon Competition, dalam rangka memperingati hari jadi kota Bogor
Dalam perlombaan itu, ada atlet profesional dari pelatda yang ikut serta, tapi jumlah mereka tidak banyak.
Sedangkan, ratusan peserta lainnya adalah mereka yang paling banter hanya berolah raga seminggu sekali saja, termasuk saya dengan tubuh kerempeng dan napas yang pas-pasan ini.
Bahkan ada juga peserta yang sudah lanjut usia, yang nyaris tidak mungkin bisa menang.
Kami semua mengetahui hal itu.
Tapi, mengapa kami tetap ikut perlombaan itu?
“Ya ya ya, lalu kenapa masih juga mengikuti perlombaan ini?”
Anda boleh bertanya begitu kepada si Kakek veteran yang juga ngotot mau ikut perlombaan.
Dan mungkin dia akan menjawab:
“Saya mah, yang penting sehat, tidak menang juga nggak apa-apa. Yang penting sehat….” kata si Kakek.
Kalau anda tanyakan itu kepada orang dewasa lainnya,
Mereka mungkin akan menjawab: “Demi kesehatan, Mas. Kita perlu berolah raga, kalau menang ya syukur. Tidak juga yah, tidak apa-apalah, yang penting sehat.”
Sedangkan, gadis-gadis remaja berusia belasan tahun mungkin akan
menjawab:”Tau deh, Mas. Pokoknya seru ajjah. Bisa ketemuan sama teman-teman.”
Dan dari para lelaki yang sedang puber semacam saya waktu itu, mungkin anda akan mendengar jawaban :”Asyik Mas. Banyak cewek kece yang ikutan….(hee hee,emang itu tujuannya)”
Pendek kata, ada begitu banyak alasan mengapa orang ikut serta dalam perlombaan lari itu; meskipun mereka tahu tidak akan menang.
Dan di akhir pertandingan, kita akan menemukan senyum kepuasan di setiap wajah yang mengikuti perlombaan.
Ketika sang atlet pelatnas naik pentas untuk menerima tabanas; setiap orang ikut merasa puas.
Tidak ada iri di hati ini.
Sebab, dari awal pun kita sudah tahu bahwa hadiah tabanas dan piala itu bukan untuk kita.
Kita mempunyai bagian masing-masing dalam perlombaan itu.
Sang Kakek, mendapatkan kesempatan untuk berolah raga dengan gembira demi kesehatannya.
Para pemuda senang dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
Para remaja gembira karena bertemu dengan rekan-rekan seusianya.
(Sambil ngeceng satu sama lain,hee hee) .
Dan tampaknya, semua orang mendapatkan kemenangannya masing-masing.
Kecuali orang-orang yang memilih tidur dibawah selimut.
Dan mereka yang hanya nongkrong di pinggir jalan yang dilewati para pelari.
Lomba lari marathon mungkin sudah bukan olah raga populer lagi di jaman ini.
Tetapi, esensinya masih tetap ada hingga kini.
Kehidupan kita, tidak ubahnya seperti perlombaan lari marathon itu.
Ada sejumlah hadiah disediakan bagi mereka yang berkoneksi sangat kuat.
Bermodal teramat besar. Dan berkedudukan begitu tinggi.
Namun, jika saja orang-orang yang tidak memiliki semua keistimewaan itu memilih untuk berhenti sebelum bertanding; kehidupan kita mungkin akan berubah wajah. Menjadi sebuah ironi ketidakberdayaan
Untungnya, sebagian besar manusia sederhana yang kita lihat adalah orang-orang tangguh.
Mereka adalah pejuang hebat yang tidak mudah menyerah.
Tengoklah mereka yang tidak pernah lelah untuk terus merengkuh hidup.
Mengagumkan sekali.
Meskipun mereka tahu bahwa tidak mungkin untuk mendapatkan pendapatan sejumlah miliaran atau sekedar ratusan ribu rupiah saja; namun mereka tetap melangkah, ikut terlarut dalam geliat hidup.
Mereka tidak hendak berhenti.
Sebab, sekalipun semua orang tahu bahwa uang besar adalah jatah orang-orang besar, namun ikut terlibat dalam permainan keseharian adalah pilihan yang paling bijaksana.
Jika kita berkesempatan untuk menyasar ke pasar-pasar pada pukul tiga pagi, kita akan menemukan beragam jenis orang.
Tukang sayur. Para penyapu jalan.
Para petugas pembersih pasar.
Para tengkulak dan makelar..
Pada pagi harinya kita akan mudah bertemu dengan para buruh tani.
Para hansip dan petugas keamanan, para pegawai kantoran
Para guru bantu disekolah-sekolah reyot (ooops) .
Aih, betapa banyaknya orang yang ikut dalam lari marathon kehidupan ini.
Apakah mereka akan mendapatkan piala? Tidak.
Lantas, mengapa mereka ikut berlari?
Karena, mereka ingin mengajari kita tentang hidup.
Mengajari kita?
Ya. Mengajari kita.
Karena kita yang lebih beruntung ini sering sekali menyia-nyiakan hidup.
Kita terlampau mudah untuk berkeluh kesah.
Ketika kita tahu akan kalah, kita langsung menyerah.
“Untuk apa kita bekerja jika dibayar dengan upah murah?
Cuma membuat kaya atasan saja!” Begitu kita sering berkilah.
“Ngapain susah-susah begitu jika hasilnya cuma segini?”
Kemudian kita memilih untuk tidur lagi.
“Kalau begini caranya, aku berhenti saja!” Lalu kita keluar dari arena.
Malu kita oleh orang-orang sederhana itu.
Padahal, Ayah dan Ibu sudah menyekolahkan kita dengan bersusah payah.
Mereka mengumpulkan rupiah, demi rupiah.
Dengan terengah-engah. Supaya kita bisa sekolah.
Setelah kita lulus sekolah? Kita menjadi orang-orang yang begitu mudahnya untuk menyerah kalah.
Setiap kali dihadapkan pada jalan yang menanjak sedikit saja, kita sudah cepat merasa lelah.
Ketika tersandung dengan kerikil kecil saja, kita sudah mengeluh,
seolah sudah kehilangan kaki sebelah.
Bukan peristiwanya yang menjadi musibah.
Melain kan sikap kita untuk memilih menjadi manusia bermental lemah.
Malu kita oleh orang-orang sederhana itu.
Meskipun mungkin mereka tidak sepintar kita.
Tidak sekolah setinggi kita. Tidak berkulit semulus kita.
Namun, semangat mereka dalam menjalani hidup, bukanlah tandingan bagi kita.
Cobalah sesekali tengok garis-garis wajah mereka.
Disana kita akan menemukan sebuah gambaran tentang hidup semacam apa yang mereka jalani setiap hari.
Tidak lebih mudah dari kita.
Sekalipun begitu; mereka enggan untuk berhenti.
Mereka terus berlari. Untuk berlomba dalam marathon ini.
Perlombaan yang hadiahnya mereka definisikan sendiri.
Yaitu; menunaikan panggilan hidup.
Dan, apakah sesungguhnya panggilan hidup itu?
Untuk menjalani kehidupan itu sendiri.
Dengan segenap bekal yang telah Tuhan berikan di dalam diri kita masin g-masing. Bersediakah kita mendayagunakannya?
Hidup tidak selamanya tentang kalah dan menang.
Melain kan tentang bagaimana kita menjalaninya dengan tindakan-tindakan yang memberi makna positif.
Yeaah Selamat berlomba…
Juga bagi para calon Bupati/Wakil Bupati Bondowoso di Pilkada 2008.
Anda Semua adalah yang terbaik !!!!!!
Cukup Sebutir Beras (suara?)
Cina yang sekarang muncul sebagai negara super power dahulunya pernah sangat miskin.
Dengan jumlah penduduk yang berjumlah 1 milyar kala itu bukan barang mudah bagi pemerintah Cina untuk mensejahterakan rakyatnya.
Hutang luar negeri dari negara tetangga terdekat pun menjadi gantungan yaitu dari negara Uni Sovyet.
Alkisah suatu hari terjadi perselisihan paham antara Mao Zedong pemimpin Cina era itu dengan pemimpin Sovyet.
Perselisihan begitu panas sampai keluar statement dari pemimpin Sovyet, “Sampai rakyat Cina harus berbagi 1 celana dalam untuk 2 orang pun, Cina tetap tidak akan mampu membayar hutangnya.”
Ucapan yang sangat menyinggung perasaan rakyat Cina itupun disampaikan Mao kepada rakyatnya dengan cara menyiarkannya lewat siaran radio, penghinaan dari pemimpin Sovyet itu, secara terus menerus dari pagi hingga malam ke seluruh negeri sambil mengajak segenap rakyat Cina untuk bangkit dan melawan penghinaan tersebut dengan cara berkorban.
Ajakan Mao kepada rakyatnya adalah menyisihkan 1 butir beras,
ya, hanya 1 butir beras untuk setiap anggota keluarga, setiap kali mereka akan memasak. Jika 1 rumah tangga terdiri dari 3 orang maka cukup sisihkan 3 butir beras.
Beras yang disisihkan dari 1 Milyar penduduk Cina tersebut, tidak dikorupsi tentunya akan menghasilkan 1 milyar butir beras setiap hari.
Hasilnya dikumpulkan ke pemerintah untuk dijual.
Uangnya digunakan untuk membayar hutang kepada negara pemberi hutang, yang telah menghina mereka.
Akhirnya Cina berhasil melunasi hutang mereka ke Sovyet dalam waktu yang sangat cepat.
Keterhinaan yang mendalam telah membangkitkan rasa nasionalisme Cina untuk bangkit melawan hinaan tersebut dengan tindakan nyata, bukan hanya tindakan seremonial, pidato atau upacara di stadion besar.
Kiranya kisah di atas bisa dijadikan contoh oleh kita yang tengah terpuruk dengan persoalan kemiskinan.
Potensi Kita yang demikian besar selama ini tidak menjadi kekuatan bahkan sebaliknya menjadi beban karena mereka tidak dipimpin oleh pemimpin yang tepat.
Kita sering silau oleh hal-hal besar namun seringkali mengabaikan kekuatan dari hal kecil namun dilakukan dengan sepenuh hati. Sebutir padi sehari bisa membalik keadaan terhina menjadi terangkat.
Maukah kita?
APAKAH KITA SUDAH LUPA AKAN BUDAYA GOTONG ROYONG BANGSA KITA,.???
Pepatah mengatakan “Orang Pintar Belajar dari Pengalaman” dan “Orang Bijak Belajar dari Pengalaman Orang lain”.
We Are The Champion, mungkin demikian Bung Ghost. Nggak enaknya saat ternyata bahwa kita yang berkompetisi justru termotivasi untuk hal-hal di luar pokok persoalan, ha ha…tragedi lagi..! Satu hal yang barangkali juga layak dikedepankan adalah bahwa secara objektif, dunia kompetisi memiliki ukuran dan kualifikasi pemenangnya sendiri, karenanya sang penyair besar Islam M. Iqbal pernah mengatakan : ” di sini tak ada tempat berhenti, berhenti sejenak berarti mati…”
Kalau kecenderungan subjektif masuk pada ranah pilkada (walau manusia menurut saya memang makhluk subjektif), korbannya akan sangat besar, mudah-mudahan ini tidak terjadi..
Saya kira kompetisi itu berkaitan dengan subyektifitas.Ada ego.Ada ambisi. Ada hasrat. Bahkan ada dendam.
Bondowoso yg dingin ini, perlu dipanaskan. hehehe
Setelah saya baca dengan cermat tanggapan Ghost, karena tulisannya panjang dan berisi, saya menilai Ghost amat optimis dengan sistem pilkada yg ada sekarang. Salut untuk Ghost. Berapa banyak orang (anak muda ?) yg optimis di Bondowoso. Optimis dan peduli, tentunya.
Saya memandang pada sisi publik mengenai pilkada sekarang ini. Kita tahu bahwa untuk di Bondowoso, memiliki budaya yg kuat dengan pemilihan lokal di tingkat desa, pilkades. Apa yg kita lihat disana ? Tak lebih dari politik uang. Dan rakyat menikmati hal tsb, suka atau tidak suka.
Ketika mereka memandang pilkada kabupaten, dalam lingkup yg lebih luas dari desa, pandangan atas pilkada kabupaten tidak jauh berbeda dengan pilkades. Uang,uang, dan uang.
Kita tahu pilkada kabupaten berbeda dengan pilkades, karena dikelola secara lebih profesional dengan kaidah norma yg telah disepakati secara nasional. Tidak ada politik uang.
Ternyata, pilkada kabupaten tidak jauh beda dengan pilkades.
Tidak ada pembelajaran publik di sini. Tanpa kita sadari terjadi pembodohan terus-menerus, dan akhirnya membusukkan sistem politik yg ada.
Okelah, kita menyisakan sedikit asa di sini. Di Bumi Gerbong Maut ini. Sementara saat yg sama, kebutuhan hidup semakin menghimpit dan memberatkan. Bupati yg terpilih, karena sistem politik menjebakkannya dalam poltik uang, akhirnya berfikiran pragmatis. Kembalikan modal ! dan ternyata ini keterusan hiks…hiks…hiks.. ;-(
Tidak ada yg peduli pada rakyat, kecuali uang beberapa puluh ribu pada saat kampanye. Rakyat tidak tahu, siapa yg dipilih sebenarnya. Apakah ia sosok pemimpin atau hanya sekedar pedagang politik saja.
Saya pesimis karena yg tersisa dari pilkada hanyalah ritualitas saja.
Pertanyaan sederhana adalah apakah hingga berakhirnya masa kampanye ini, pernah ada debat kandidat secara terbuka misalnya di alun-alun atau gelora-lah, dimana publik bisa tahu dan menilai dengan hati nurani? Tidak ada,kan.
Cabup dan cawabup sekarang, masih sosok yg tetap misteri dan berjarak dengan rakyat. Apakah mereka putra Bondowoso asli atau bukan, tidak ada yg benar-benar memahami, menjadi dan memperjuangkan nasib rakyat dan memajukan Bondowoso.
Rakyat makin tetap miskin. Apalagi bbm mo dinaikkan lagi hiks..hiks..hiks…
Seandainya saja ada oposisi yg kuat di arena politik Bondowoso, tentu akan menarik. Sejauh ini politik malu-malu dan rikuhan dan diam-diam dan main di belakang masih sangat kental. Sistem politik di Bondowoso tidak berjalan menurut track yg benar. Istilah kerennya, terjadi pembusukan politik (Saya akan menulis ini lain waktu).