Putra Daerah ataukah orang Jepang Ataukah Orang Singapora…
Pilkada di Bondowoso, dan juga mungkin di daerah lain, selalu diwarnai dengan “putra daerah”.
Jargon Politis ini setara dengan persyaratan bahwa calon presiden harus sarjana, atau harus sehat rohani dan jasmani, atau harus laki-laki atau harus bisa menyanyi atau harus bisa melawak atau harus jawa atau…..
Saya berfikir bahwa “daerah” tidak mengikuti KB
. Lha wong, putranya buaanyaakkk…
Berkaitan dengan pilkada Bondowoso, definisi “putra daerah” sangatlah rancu dan bias dan mengada-ada….Sebuah partai pernah mengangkat isu tsb dan saya kira, publik pun, juga bertanya-tanya.
Kasarnya adalah Putra daerah harus lahir,besar,berpendidikan dan suku madura dan tinggal di Bondowoso mulai dari brojol, hingga muncul kumis dan datang ke KPUD menyerahkan berkas pendaftaran cabup-atau cawabup..
Biasnya adalah berbagai varian dari itu. Misalkan bukan suku madura, tetapi arab atau cina atau jawa atau campuran. Besar di kota lain. lahir di kota lain tetapi besar di Bondowoso. Atau seperti kondisi di atas, tetapi tidak memahami kondisi Bondowoso, dll.
Pendek kata adalah definisi “putra daerah” adalah definisi politis, yang memang diperuntukkan untuk kepentingan politis.
Saya malah berfikir, supaya Bondowoso ini maju yang memimpin adalah orang Jepang atau Singapura atau Vietnam.
Lihatlah negara-negara tersebut. Mereka adalah negara-negara yang dapat maju dengan cepat. Bangkit dari puing-puing kehancuran. Memiliki disiplin dan etos kerja tinggi. Berorientasi ke depan.
Yang dibutuhkan Bondowoso adalah budaya progressif untuk bisa bangkit supaya maju dengan harga dirinya. Seandainya di Bondowoso ada budaya adiluhung, kenapa selama ratusan tahun ini tidak maju-maju. Pasti ada yang salah di kota ini. Yaitu masyarakatnya. Budayanya yang membuatnya mundur. etos kerjanya yang rendah (saya akan menulis lain waktu secara panjang mengenai budaya ini). Yang membentuk lingkaran kemiskinan-kebodohan-keterbelakangan yang tidak pudar. Para politikus yang saat ini bermain, memanfaatkan benar “pangsa pasar” yang gurih ini untuk mengeksploitasi Kota Gerbong Maut ini habis-habisan.
Jadi siapa yang anda,pilih….
Golput aja Yuk hehehehe….. (biar tidak ikut nambah dosa )




Seorang teman bergurau, Bondowoso sulit maju karena di batas selatan adalah Maesan (batu nisan) dan di batas Utara adalah Situbondo alias Patokan(batu nisan juga nih), di tengahnya ada Gerbong Maut…mati deh gue, he he. Tapi diskusi kulturalnya saya tunggu mas…sepertinya menarik
Lah kok beberapa dari kita masih berkutat pada persoalan primordial kedaerahan yaa ?
PilBup bukanlah kontes,mencari Local Genuine…khaan
Tapi mencari sosok yang capable untuk memanage potensi Kita…
Adakah yang terbaik ?
Sayapun berpendapat tidak ada yang terbaik….
Yang Kita dapatkan hanyalah yang secara comparative, secara rasional (bukan emosional)…
“Better than……”
Ukuran mana yang lebih baikpun diantara kita bisa beda,
dari orang yang satu dengan orang yang lain..
dari kelompok yang satu dengan kelompok yang lain..
Tapi tak usahlah karena perbedaan itu kemudian kita menambah kekalutan hidup.
Karena kenyataannya Orang-orang yang bahagia tidak selalu memiliki hal-hal yang terbaik,,,
Tapi mereka hanya berusaha menjadikan apa-apa yang dimiliki menjadi yang terbaik.
Begitu juga dengan Kita…
Mungkin Calon yang terpilih bukanlah yang terbaik..
Tapi dengan sinergitas (jangan GolpuT) diantara Kita, maka Kita bisa mengupayakan apa yang ada ini menjadi yang terbaik.
UNTUK RAKYAT !
Haaaaah…
Jabatan Bupati memang kekuasaan yang akan memberi kemewahan dan kebanggaan sehingga membius semua orang untuk mengejar dan meraihnya..
membius sang calon dan para pendukungnya…
Lalu bagaimana dengan nasib sang rakyat…?
Kekuasaan itu datangnya dari rakyat..
Dan kebanggaan itu akan berubah menjadi kecemasan apabila kondisi rakyat menjadi makin buruk..
Pemberian nama “gerbongmaut” menyiratkan sisi negatif yg dilihat oleh orang bondowoso. Kenapa tdk dinamakan “gerbong pahlawan” atau “gerbong perjuangan” atau nama yg lain. Pemberian nama gerbong maut mengisyaratkan tidak ada yg istimewa di gerbong itu, karena menggunakan nama-nama horor yg masih berlaku hingga kini bila menimpa benda yg lain seperti bus maut, kereta maut, jurang maut, dll.
Gang maut di sebelah selatan SMA2 pun diubah menjadi “gang bahagia” kalo gak salah liat, untuk mengubah citra dan sekaligus doa untuk gang tersebut.
Nama adalah doa sekaligus kutukan. Bondowoso mengambil bagian kutukan darinya. yaahh…emang nasib.
Udah berada di kuburan di kutuk pula.
Bupati yg terpilih nanti, yg pertama kali dilakukan adalah mengubah nama gerbong maut menjadi nama lain yg lebih elegan, lebih mewakili, lebih bersemangat….
Pertamina mengubah logo supaya lebih fresh dengan semangat baru….
Saya sih pesimis siapa yg peduli dengan nama itu. Anggota dewan ? hehehe…..
Ah, sebodo amat dengan nama. Supaya lebih fresh ya… dicat putih
untuk Ghost : Konon pemimpin itu cermin dari rakyatnya. Yah, salahnya sendiri rakyatnya memilih. Banyak faktor kenapa harus memilih si anu. Faktor-faktor itulah yg perlu diklasifikasi untuk membedah “jati diri” rakyat Bondowoso.
Bagaimana kalau diskusinya kita balik? “MENCARI RAKYAT KREDIBEL DAN KAPABEL BAGI SIAPAPUN PEMIMPINNYA”. Jadinya kayak diskusi lebih dulu mana telur sama ayam? he he. Artinya bahwa secara jujur, kita bersama sedang cemas menilik kondisi Bondowoso. Pemimpin dan rakyat seperti sedang berlomba mengkhianati dirinya sendiri dengan pragmatisme yang merajalela. Padahal pragmatisme tidak akan pernah menjadi jalan keluar dari persoalan sosial apapun, sedang di sisi lain, kita sedang dihimpit ragam persoalan sosial…lalu bagaimana?
Saya melihatnya bahwa budaya yg ada sekarang adalah paternalisme. Ungkapan, ikan busuk mulai dari kepalanya, adalah ungkapan yg tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia, terutama Bondowosos dalam hal ini.
Kalau bapaknya aja rusak, ya jelas dong anak-anaknya ikutan rusak.
Pilihan, mana lebih dulu ayam atau telur, jawabnya adalah Ayam (bapak) lebih tepat untuk Bondowoso.
Jujur Bung, apa menurut anda tak satupun lagi anggota dprd bondowoso yang punya kemampuan dan keperdulian pada rakyat? sekali lagi, apa tak satupun?. Saya sedang tertarik untuk mengkaji tentang fenomena keterwakilan rakyat lewat lembaga dprd, mungkin disana ada nara sumber yang layak saya ajak bicara…
Pertanyaan ini nampaknya antara : “apakah tak satupun? atau tentang keberdayaan ya? kok no respons?
Sekarang kembali sunyi..
Dinamika memang tak berarti selalu pasang..
Justru karena disamping pasang lalu ada surut itulah maka muncullah terminologi Dinamika itu..
Tapi surut yang berlama-lamaaaaaaaaaaa
Ini pertanda apa Mazzzz ?
Rehat Pasca Pilkada yaaa ?
Padahal masalah didekeliling Kita tak pernah rehat,he he he