Khotbah yang berisik….

Pagi hari.Nongkrong di alun-alun. Memandang mbah gerbong maut. Dan lampu-lampu hias. Hmm…menjelang 17 Agustus. Di tengah krisis listrik, kok masih ada pemborosan energi. Sementara di banyak tempat terjadi pemadangan bergilir. Gimana nih bos.

Lagi-lagi bukti, pemerintah tidak peka terhadap masalah yg dihadapi rakyatnya.
Hoi..tuan-tuan yg ada di seberang sana. Matikan lampu dong!!! (wah,wah.wah…..sabar men).

Fikiranku kembali terusik dengan suara keras khotbah dari masjid Agung At Taqwa Bondowoso. Kenapa sih khotbah harus seberisik itu. Bagaimana bila ada yg sakit dan terganggu. Saya tidak setuju dengan khotbah yang menggunakan pengeras suara. Ini akan mengganggu ketertiban umum. Tetapi apalah artinya ketertiban umum di sini? Lihat aja, orang mengadakan resepsi, terutama di desa-desa. Berisiknya minta ampun, mulai dari malam, hingga malam lagi. Speaker ditumpuk hingga 5 tingkat.
Mengapa harus seperti itu?

Bila orang desa itu kesulitan ekonomi, toh masalah speaker bisa di kurangi. Ini jelas menghemat anggaran. Tetapi, beginilah budaya yang ada. (wah artikel ini jadi menjawab pertanyaanya Bung Bondowoso kita (http://bondowosokita.wordpress.com) nih. Gimana nih bung, kenapa untuk hal yg tidak penting, orang harus jor-joran. Mental untuk BERINVESTASI DAN BERHEMAT tidak ada.(ini salah satunya…). Faktor budaya yg lain entar aja deh hehehehe….

Ini juga berkaitan dengan teladan dari atas. Ya contohnya soal lampu yg gerlap-gemerlap di kantor pemkab. Untuk apa sih lampu-lampu itu. Sisi ARTIFISIAL inilah yang lebih dipentingkan. (wah sekali lagi menjawab pertanyaan bung Bondowoso Kita). Udah dulu, tulisan ini ini.

Sementara khotbah di masjid At taqwa masih berlangsung dan tidak memberi kesan sama sekali. Kecuali berisiknya itu….

Ya Alloh, kalo kebenaran disampaikan dengan cara yg salah, maka ia menjadi hal yg salah pula…..hehehe. (sok alim berdoa segala..)

~ by gerbongmaut on 18 July, 2008.

One Response to “Khotbah yang berisik….”

  1. Tidak mudah memang, untuk merubah budaya simbolik menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Di hari lebaran, warga pedesaan bertandang ke sanak famili atau tetangga sambil bawa kue, kue itu di bawa lagi untuk dijadikan oleh-oleh ke tempat lain. Bisa jadi setelah berputar-putar, sang kue pulang kembali ke rumah asal. Soal perlampuan juga masalah nasional kan…? Semua pakai penjor pada Agustusan, bukan hanya Bondowoso….tapi Indonesia….

Leave a Reply