Peta Politik Pilkada. Mengapa Amin Haris (AHa) akan menang ?

Untuk tulisan ini, Jangan dibaca terlalu serius. Santai aja men. Sambil ngisep rokok.Ato ngisep yang lain. Coba aja mousenya diisep hahahaha…..

Pertama Amin-Haris, saya singkatkan dengan AHa. Yah tentu untuk menghemat tulisan. Karena sejauh ini, belum ada singkatan nama dua calon tersebut.
Kedua inilah analisa saya yg ngawur tersebut.
— Singkatan namanya saja sudah keren AHa. Berisi kejutan. Kok bisa ya…kok bisa ya…
— Popularitas amin said husni di internet tidak terkalahkan
— Dukungan media. Saya melihat Radar Jember memuat berita kampanye AHa lebih banyak. Wah ada apa ini?. Kenapa berita calon lain lebih sedikit Misnan-Sobri (MisSo), Irwan-Huzain (IrHu), Salwa-Thahir (wahir) hehehe….sori bro cara nyingkatnya aneh.
— Dukungan abege, mungkin karena kegantengan Haris ( saya membayangkan. Haris seperti sosok Dede Yusuf yg memenangkan pilkada Jabar) :-D . Sosok ksatria yang ganteng dan gagah berani hehehe….
— Dukungan birokrasi, terutama dari pak Bupati sendiri (kalo tak percaya, tanyakan saja ke pak bupati)
— Dukungan dana (yah, siapa aja juga punya uang. Tapi, besarannya bung….)
— Dukungan partai (herannya kok belakangan,ya…Partai Patriot en partai Demokrat mendukung AHa. Entah partai apa lagi nanti nantinya menjelang pencoblosan)
— Aha lebih muda dikenali digambar, karena kostumnya lebih simpel. Berwarna putih.
— Dukungan spanduk aneh bertuliskan angka “1″ di alun-alun sejak sebelum masa kampanye. katanya tidak ada yg tahu, siapa yg masang…. Yg bener aja, Boss.
— Yang penting lagi adalah dukungan doa dan restu.Amin-AMin-Amin Entah, makhluk apa pula ini…..

Paparan di atas memang tidak menggambarkan peta. Karena memang tidak ada gambarnya. Mungkin para boss sekalian bisa menambahi.
Kalo, saya sendiri percaya, yang bisa mengalahkan AHa adalah golput.
Karena faktor X, ramalan di atas bisa juga melenceng. Siapa sangka, ada angin topan yg menimpa Bondowoso. Menghancurkan lokasi basis massa AHa, dan menanglah Salwa. hehehehe….

Catatan : Para pengocok kartu menjagokan siapa, nih…Bandar-bandar judi pada sibuk,ya…

Nih, ada sebuah puisi untuk mengakhiri tulisan:

Di tengah malam yg dingin ini. Para hantu bergentayangan. Mereka siapa menelan kota ini. Masyarakatnya yg hanya diam. Karena ketidaktahuan.Karena kepatuhan. Karena kepasrahan.Karena masa bodoh. Politisinya yg brutal. Sama halnya dengan aparat pemerintah. Oh nasib…nasib… Lahir di Kota Gerbong Maut…. Eh Gerbong Bahagia,ding…Putra Daerah yang tersingkirkan di tanah airnya sendiri Negara Bondowoso. Jreng—jreng–jreng…

~ by gerbongmaut on 18 July, 2008.

4 Responses to “Peta Politik Pilkada. Mengapa Amin Haris (AHa) akan menang ?”

  1. ciah, kalo mau jadi bupati aja pake dipuji-puji habis2an. coba deh, cerna dengan baik slogan yang sering dipake AMIN dkk. ” Noro’ Amin aman, noro’ Amin nyaman”. skarang pertanyaanya: Siapa yang aman? Siapa yang nyaman? jawabannya adalah: jika AMIN nanti jadi bupati Bondowoso, maka yang aman adalah orang2 yang bersembunyi dibalik kekuasaan Amin. yaitu para koruptor yang selama ini makan uang kita. mereka aman, karena kalau Amin jadi bupati, maka mereka bebas beraksi tanpa diusik KPK. trus siapa yang NYAMAN? yah, tentuntya si AMIN itu. ha3x

  2. ini blog nya sapa sih…koq mihak bgt ke AMIN-HARIS….buatannya tim AMIN_HARIS ya…

  3. “INI BUKAN KRITIK”
    Dalam suatu moment, seorang menyampaikan masukan atas kinerja Tim.
    Kritik ini disampaikan pada A, yang sering berkomunikasi dengan orang-orang dalam Tim.
    Maka A menyampaikan pada temannya B yang merupakan salah satu dari Tim.
    Lalu terjadilah dialog sbb..
    A : Tadi ada masukan dari orang
    B : Oh ya, apa itu ?
    A : Katanya Tim kerjanya si Anu ndak profesional , dan harusnya Tim itu bekerja untuk Owner bukan untuk Tim itu sendiri.
    kinerja Tim itu harus segera dievaluasi.
    B : Hooh, siapa yang bilang…?
    A : itu lho…. si Mas X
    B : Hoooooh (Hooh lagi,tapi kali ini dengan suara lebih panjang)…
    kalau si X itu sih memang punya sentimen pribadi. Udah biasa kok kaya begitu.
    A : … Hee?

    Ada yang merasa aneh dengan contoh itu?
    Ya, temen di Tim B menjadikan alasan sentimen Mas X sebagai excuse atas kekurangan yang terjadi.
    Mungkin ia melakukannya tanpa sadar, tapi dengan cara itu ia malah mengabaikan inti kritikan itu sendiri.

    Contoh lain lagi.
    Dalam suatu rapat, C dan juga beberapa yang lainnya datang terlambat dan setelah rapat selesai, D menyampaikan sesuatu pada C.
    Terjadilah dialog seperti berikut ini :
    D : Tadi ada yang sempat ngomong sama anggota yang lain, protes sama jam karet anggota rapat. Katanya Itu sama aja menzalimi orang lain yang udah berusaha tepat waktu.
    Ke depannya harusnya semua bisa lebih disiplin, gitu katanya.
    C : Eh? Siapa yang ngomong?
    D : Si F…
    C : Hoooooh, ya iya lah.
    Dia kan memang senengnya ngritik orang. Wajar sih dia bilang begitu.
    D : Lho…?? *bengong *

    Ada yang (lagi-lagi) aneh kan?
    Ya, dengan menuding sosok F tukang kritik, C melindungi diri dari kesalahannya yang dikritik oleh F….
    Spontan….
    Itu contoh umum yang sering terjadi dan mungkin juga anda sering menemukan contoh sejenis lainnya .
    Ini hanya sekedar mengangkat fenomena, bahwa ternyata masih sebegitunya masyarakat kita dalam menyikapi kritik yang ada.
    Bahkan mereka melakukannya dengan refleks, spontan, tidak sadar.
    Reaksi pun beragam.
    Kejadian umum lain yang biasanya kita temui, ada yang bereaksi secara ekstrem,
    penuh emosi,
    mengecam yang memberi kritik,
    membungkam kemungkinan munculnya kritik-kritik yang lain dengan kekuasaan yang dimiliki ataupun jalan lainnya.
    Inti tujuannya, berhentilah wahai pemberi kritik…..

    Selain contoh di dunia nyata seperti itu,
    fenomena mirip-mirip itu terjadi pula di dunia maya ini.
    Terutama di blogosphere ini misalnya saat diskusi atau menanggapi pendapat orang lain, ternyata sikap anti kritik atau menutup diri dari kritik masih begitu kental sekali.
    Refleksinya bisa kita lihat dari reaksi dan tanggapan yang muncul.
    Beragam. Warna warni.
    Bahkan pada beberapa terkesan dipenuhi emosi, merasa `diserang`, disudutkan, `dijatuhkan` ,dimusuhi.
    Macam-macamlah.
    Hingga akhirnya malah melupakan hal penting, yaitu substansi kritik itu sendiri.

    Pertanda apa ini ?
    Entahlah…
    Mungkin ada hubungannya dengan pola pikir dan budaya anti kritik sebagian masyarakat kita yang terbentuk karena pengaruh lingkungan sosial.
    Eh….Kok Yang menjadi kambing hitamnya malah lingkungan sosial.
    Apa betul ?
    (Selalunya mencari kambing hitam itu mudah ya ?)
    Kalau begitu jangan menyalahkan siapa-siapa lah, atau entah apa-apa lah.
    Lihat saja diri sendiri.
    Ini ada hubungannya dengan realita bahwa terkadang, ternyata, kita lebih suka, lebih mudah, dan lebih cepat mengedepankan ego, ketimbang logika berpikir secara jernih.
    Jadinya tanpa sadar kita dengan terburu-buru menyimpulkan bahwa yang memberi kritik berikut kritikannya itu (misalnya), adalah sepele, tidak penting, hanya cuap-cuap aneh yang tidak perlu dilayani, orang-orang kurang kerjaan yang lagi stress, provokator ide sesat, dan seabreg tuduhan lainnya (baik terselubung dalam hati atau terang-terangan) yang dengan segera tanpa disadari, hal itu `membentengi` mata, hati dan pikiran untuk merenungkan dan memikirkan inti kritikan itu sendiri.

    Ini bahaya tidak ?
    Bisa dikatakan iya..
    Kenapa ?
    Bayangkan saja jika sudah tidak ada lagi yang peduli,
    tidak ada reaksi apapun atas ketidakberesan, ketidakbenaran, penyimpangan-penyimpangan dan hal-hal lainnya di sekeliling anda.
    Bukankah keadaan ini tidak sehat khaaan ?
    Karena itu, disinilah kritik menjadi penting…
    Bahkan pada lingkup yang lebih luas, kritik bisa menjadi kontrol sosial yang berimbang dengan usaha-usaha menjalankan peraturan yang sudah baik.
    Dan seperti yang sudah dijelaskan tadi, ternyata masih ada yang tidak bisa terima saat dikritik.
    Karena egokah ?
    Ego pribadi ? Agaknya sih begitu.
    Silahkan jika anda punya pendapat lainnya.
    Lalu bagaimana caranya supaya orang bisa menerima kritik dengan sikap terbuka dan tidak egois ?
    Yaa…(mungkin) kendalikan ego, atau…kurangi ego !
    Kurangi ????
    Ya Iya lah, karena menghilangkan jelas tidak mungkin.
    Hidup tanpa ego itu bukan lagi manusia, tapi jadi seperti malaikat kayaknya ?
    Jadi begitu deh, kalau manajemen ego-nya sudah lumayan, maka anda akan santai saat ada kritikan yang mampir.
    Kalaupun pada detik, menit, jam, hari, minggu (lanjutkan sendiri hee) pertama anda akan sedikit tersinggung, atau belum ngeh dan masih tidak habis pikir kenapa bisa dikritik, dengan ego yang terkendali, pikiran anda akan dengan mudah mendampingi anda menelusuri substansi kritik itu sendiri.

    Pada keadaan seperti ini, anda sudah tidak akan mempermasalahkan lagi,
    siapa orangnya yang sudah berani-beraninya mengkritik anda,
    latar belakang maksud orang (yg jangan-jangan ingin menjatuhkan) yang memberi kritikan itu, dan pikiran-pikiran horor lainnya,
    karena anda mulai bisa melihat, bahwa TERNYATA, memang ada hal yang tidak beres pada obyek yang dikritisi dan ada yang (berusaha) mengupayakan keadaan ke arah yang lebih baik.

    Anda mulai membuka diri pada inti kritikan itu sendiri.
    Dan tentu saja anda tidak perlu capek-capek Tsu`Udzon lagi kan ?
    Hohoho, jadi ?
    Ya, jadi kita mulai belajar bijak sekarang.
    Dikiiiit…
    Kita mulai bisa membuka diri pada kritik dan juga mulai kritis.
    Melihat sesuatu secara objektif dengan tidak menempatkan ego di barisan terdepan.
    Bagaimana ?
    Dengan begitu budaya anti-kritik di masyarakat kita sudah bisa kita tinggalkan bukan ?

    Ah iya, katanya kritikan jauh lebih punya efek positif ketimbang pujian.
    Terlalu banyak dipuji bisa bikin orang stagnasi dan merasa tidak perlu lagi mengembangkan diri,
    tapi terlalu banyak dikritik akan jadi cambuk untuk selalu (berusaha) memperbaiki diri.
    Lalu, kritik yang bagaimana ?
    Ah, jangan pura-pura begitu, anda mesti tahu kritik yang seperti apa.
    Ya kan ?

  4. Tanggapan mas andre tentang aman-nyaman bisa jadi benar. Persis seperti yang dihembuskan tim PAHAM (amanah kok khianat pada parta yang menjadikannya wabup dulu), juga seperti yang dihembuskan timnya koalisi merah putih (bukti bukan janji…buktinya dia terkait kasus SPJ dan alat pengolah sampah saat jadi kadis DKP. Irwan? tahu apa juga dia, apalagi Misnan….tanggapan ini asli, bukan apriori seperti Mas Andre

Leave a Reply